
coffeelate.akashi04
“ nih pak.” Ku letakkanhasil memulungku seharian ini di atas timbangan.
Setelah menimbang berat hasil memulungku, Pak Joko memberiku 3lembar uang lima ribuan.
“ Pak, kok Cuma segini? Banyakan dikit dong pak. Kan saya dapetnya banyak hari ini.” Aku memprotes Pak Joko, karena ku pikir hari ini jauh lebih banyak dari hasil kemarin.
“ allaahh. . .mo minta lebih lagi ! eh. .hari ini sama kemarin kamu itu sama saja. Kalo mau lebih cari yang banyak !!” Pak Joko berkata sambil mengibaskan tangannya, menyuruhku menyingkir.
Aku masih mematung, berharap Pak Joko akan memberiku tambahan walau hanya sedikit.
“ tunggu apa lagi? Sana-sana. . .yang lain pada ngantri !!”
Hhaaahhh . . .aku menghela nafas panjang.
‘ dasar pelit ! ‘ pikirku dalam hati.
Aku berlari menyusuri jalan menuju bekas gerbong kereta api. Disana meskipun bukan rumah, tapi bagiku itu adalah rumahku. Tempatku berlindung, tempatku tidur, dan tempatku melepas lelah.
Namaku Dewa. Umurku 12 tahun. Di sini, di Kota Jakarta ini, aku tinggal sendiri. Sendiri maksudku adalah tanpa orang tua dan saudara. Aku tak tahu siapa orang tuaku. Menurut Bu Siti, ibu angkatku. Beliau menemukan aku di depan bekas gerbong kereta tempat tinggalku ini. Dan setelah umurku 8 tahun, Bu Siti meninggal. Awalnya aku sedih, karena tak ada satupun orang yang ku miliki selain Ibu Siti. Tapi sekarang aku sadar, aku tak boleh terlalu lama bersedih, karena sedih tak kan menghilangkan laparku. Aku mulai mengumpulkan barang bekas untuk dijual. Meski uang yang ku dapatkan hanya sekedar untuk mengisi perut. Aku terpaksa berhenti sekolah karena aku tak bisa mengumpulkan uang selain untuk makan.
Aku memulung bersama sahabatku, namanya Luna. Dia selalu menemaniku. Dan sekarang kami tinggal bersama. Luna sama halnya denganku. Kami sama – sama dibuang dan orang tua angkat kami sama – sama sudah meninggal.
“ Dewa. .hari ini kamu dikasih berapa sama Pak Joko ? “
“ huuuhh . .sama aja kayak kemarin Lun, padahal hari ini aku dapetnya lebih banyak dari kemarin. “
“ udahlah. . .yang penting kamu dikasih uang. O ya, liat nih aku dapet ini waktu mulung ! “ Luna mengambil sebuah papan berisi angka dan huruf dari dalam tas kantong kresek miliknya.
“ wah hebat ! kita nulis yuk ! “
Aku dan Luna mengetikkan nama kami dari papan itu. Aku menekan tombol – tombol yang di atasnya ada huruf namaku, dan Luna menuliskannya di kertas. Jadi kami seperti mengetik di komputer.
Cukup lama kami bermain – main dengan papan ketik itu, hingga Adzan Maghrib berkumandang. Aku dan Luna shalat berjamaah di dalam gerbong ini. Setelah shalat dan membeli makanan, aku dan Luna makan malam seadanya. Dan tidur setelah Shalat Isya.
Malam ini tak ada bedanya dengan malam sebelumnya. Sama seperti empat tahun yang lalu. Kadang aku seringkali bermimpi berubah menjadi anak – anak kaya, yang ketika bangun tidur sudah ada makanan yang akan disantap dan siap untuk berangkat sekolah dengan baju seragam, tas, dan sepatu yang bagus. Tapi ketika aku bangun, mimpi itu pun sirna, berlalu bersama malam yang berganti pagi.
Bangun tidur seperti halnya hari biasa, aku dan Luna berangkat memulung, mencari nasi. Ketika kami sedang memulung tiba – tiba dari belakang ada yang menarik bajuku. Ketika aku membalikkan badan, sebuah pukulan mendarat di pipi kiri ku. Ketika aku terjatuh, mataku menjadi gelap, teriakan Luna memantul – mantul di dalam ruang kepalaku. Seketika aku berdiri dan di depanku sesosok tubuh ceking yang lebih tinggi beberapa centi dariku. Dan menarik bajuku.
“ eh. . .ngapain lu mulung di daerah gua ? “ dia berteriak di depan wajahku.
“ ma. .maaf bang ! sa. .saya gak tahu kalo ini daerahnya abang. “seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Kulihat Luna juga ketakutan di sampingku, Dia memegang erat karungnya.
“ sini karung lu bedua !! “ dia melepaskan genggamannya di bajuku, dan merampas karung milkku dan Luna dengan paksa.
“ jangan bang ! “ Aku dan Luna mencoba menahan karung kami dari manusia ceking itu.
“ PLAAAK . . .” Luna ditampar oleh orang ceking itu. Seketika Luna menangis.
“ Luuunnnnnaaaa . . .” aku mendekati Luna dan tak menghiraukan orang ceking itu lagi. Aku dan Luna hanya bisa menyaksikannya merampas semua hasil memulung kami, dan memasukkannya kedalam karungnya.
“ gini akibatnya kalo lu bedua berani mulung di daerah kekuasaan gua !! nih, ambil nih karung lu ! “ dia melempar karung kami ke mukaku dan Luna.
Luna yang sedari tadi menangis, kini menangis semakin menjadi.
“ kamu ga pa pa kan Lun ? ayo kita mulung di tempat lain aja ya. “aku mencoba menghibur Luna dan membawanya ke tempat lain. Luna mengikuti ku berjalan dan kini tangisnya sudah reda.
Sepanjang pagi hingga siang aku dan Luna memulung dari satu tempat ke tempat lain. Hasil memulung kami hari ini kurang dari biasanya. Jadi, aku dan Luna memutuskan mengamen untuk menambah penghasilan kami hari ini.
Kami mengamen di perempatan jalan. Berbekal dua buah botol plastik dan dua gelas plastik, aku dan Luna bernyanyi di setiap mobil yang berhenti di sana. Aku dan Luna berlari – lari riang menuju trotoar ketika lampu hijau menyala. Luna berlari mendahuluiku, dan tepat ketika Luna menuju trotoar, sebuah mobil angkot menabrak Luna. Tubuh Luna terhempas, kepalanya menghantam pinggir trotoar. Tubuhnya penuh dengan darah. Seketika waktu terasa berhenti, kurasakan jantung ku berhenti memompa darah ku, aku berlari, berteriak memanggil Luna.
“ Luuuuunnnnnaaaaaaa . . . . . . .!!!! “ tangisku pecah.
Aku memeluk tubuh Luna yang penuh darah, orang – oran gmengerumuni ku dan Luna. Tak ada satupun yang berniat menolong ku. Aku hanya bisa menangis dan memohon kepada mereka agar mau membawa Luna kerumah sakit.
“ paakk . .tolong adik saya paakk . . .buuu . .tolong adik saya bbuuu . . .!! “ tak ada lagi rasa di dalam diriku, yang ku pikirkan hanyalah Luna. Tapi tetap saja sia – sia.
Aku terseok – seok menggendong Luna ke tempat Pak Joko. Karena hanya Pak Joko yang ku kenal selama ini.
“ Pak. . .tolongin saya paakk . .tadi Luna ketabrak mobil . .” aku menangis sejadi – jadinya, memohon pada Pak Joko.
Pak Joko membaringkan Luna diatas tumpukan papan panjang, dan memegang pergelangan tangan Luna. Beliau menghela nafas panjang.
“ Dewa. . .Luna udah meninggal. “ Pak Joko menatap ku lama – lamat. Wajahnya menyiratkan kesedihan.
“ Belom pak !! Luna belooom maattiii . .ayo pak kita bawa luna ke rumah sakit. Luna harus diobatin pak !! “ aku menangis semakin menjadi, berlutut memohon pada Pak Joko agar membawa Luna kerumah sakit. Meskipun aku tahu Luna sudah tak lagi bernyawa, tapi aku tak ingin mempercayainya.
Pak Joko hanya terdiam, dia membiarkanku memohon padanya. Dia memalingkan wajahnya. Aku berdiri dan mendekati tubuh Luna.
“ Luunnaa . .bangun Lun . .banguuunnn . .jangan tinggalin Dewaaa . .Dewa nggak mau sendiri. . . !! “ aku mengguncang – guncang tubuh Luna seolah dengan begitu Luna akan bangun.
Pak Joko mendekatiku dan menepuk pundakku.
“ Wa . .Luna itu udah nggak ada, lebih baik kita mandiin dia. Kita harus merelakan Luna. Kematian itu takdir Wa. Luna harus segera dimakamkan. Ayo, nanti keburu sore !”
Berat bagiku untuk merelakan kepergian Luna. Hanya Luna yang menemaniku semenjak Ibu Siti meninggal. Bagiku Luna adalah adik dan sahabat terbaikku. Hari ini Luna telah pergi meninggalkan ku di tengah kejamnya Ibu Kota.
Beginilah hidup sebagai anak jalanan, hanya dipandnag sebalah mata. Bahkan ketika kami membutuhkan pertolongan, tak ada yang mau menolong kami. Kami dianggap sampah yang keberadaannya dianggap merugikan, padahal kami sendiri tak mengharapkan keadaan kami yang seperti ini.
Cerita ini ku simpan hingga aku dewasa dan mendirikan sebuah rumah tampung anak – anak jalanan yang ku beri nama ‘ Rumah Cinta Dewa Luna’ . Peristiwa inilah yang menjadikanku bertekad untuk merawat anak jalanan seperti aku dan Luna.
Pesanku Untuk Luna
Luna, ku tahu kau menatapku dari surga.
Rumah ku kini tak lagi kosong dan sepi.
Karena kini aku adalah Dewa yang sedang berbagi cinta dengan sesamanya.
Semoga kau senang di sana.
Aku akan menyusulmu jika nanti janjiku tlah sampai.
Sekarang biarkan aku menabung untuk akhirat, agar kita bisa bersama di Surga.
Pangkal Pinang, 19 Mei 2010
Author
Dessy Pratiwi Putri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar