Powered By Blogger

Jumat, Mei 21, 2010

Emak


coffeelate.akashi04 EMAK

Tampak seorang ibu dengan wajah sumringah tergopoh-gopoh berjalan menyusuri pinggiran rel kereta api membawa bungkusan plastik yang berisi barang yang baru saja Ia beli di toko loak. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk kedalam gubuk bobrok tempat tinggalnya.
“ Inah, liat ini emak bawa apa? “ dengan penuh kegembiraan
Sang Ibu menunjukkan seragam sekolah kumal, sepasang sepatu dan tas yang tampak sedikit lusuh kepada anaknya.
“ Ini buat Inah sekolah nanti nak. “ senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah Sang Ibu.
“ Horreeee. . . .Inah punya seragam, sama sepatu, sama ttaaasss. . . . “ Inah bersorak riang atas emberian ibunya.
“ Makasih ya Mak !!! “Inah tersenyum lebar kepada ibunya, menampakkan gigi-giginya yang tidak penuh. Ibunya membalas dengan senyum lebar penuh kebahagiaan .
Dirangkulnya tubuh Inah. Betapa bahagianya Ia bisa membelikan perlengkapan sekolah untuk anaknya. Meskipun ia hanya membeli di tukang loak. Baginya Inah senang dengan pemberiannya pun sudah cuku membuatnya bahagia.
“ Kamu akan sekolah sayang, nanti kamu harus bisa baca dan berhitung. Biar kamu nggak kayak emak. Biar kamu bisa ngajarin emak. Biar anak emak ini pinter. Kamu nanti harus rajin sekolah ya nak. “
“ Iya mak, nanti Inah pasti rajin sekolah.” Janji ini janji yang ia ucapkan dalam pelukan ibunya adalah janji yang selalu ia pegang sepanjang hidupnya.
Senin pagi ini adalah hari besar bagi Inah dan Ibunya. Karena hari ini adalah hari pertama Inah masuk sekolah. Hari yang telah lama mereka tunggu. Senyum menghiasi kedua wajah Ibu dan Anak ini.
Dengan begitu antusias Ibu Inah memperhatikan anaknya yang begitu mencolok diantara anak-anak lainnya. Bukan karena baju seragam kumal yang tampak kebesarannya, tapi karena keberanian Inah di depan kelas. Menyanyi dengan suara sumbang, tanpa malu ataupun canggung. Dengan lantang Inah menyanyikan lagu ‘ Kasih Ibu ‘ .
“ Itu anakku, itu anakku. “ dengan penuh bangga Ibu Inah mengatakan pada Ibu-Ibu lainnya bahwa itu adalah anaknya.
Hari ini, hari dimana Inah memulai sekolahnya adalah awal hari-hari indah Inah dan Ibunya. Meski banyak kesulitan yang mereka tempuh tapi masih bisa mereka atasi. Uang bukanlah kendala terbesar seseorang untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Meski sulit dicari, tapi uang masih bisa dicari. Justru kendala terbesar sesungguhnya adalah ketika seseorang kehilangan niat dan semangat untuk menuntut ilmu. Karena niat dan semangat adalah pondasi untuk mencapai suatu tujuan.
Setiap hari sepulang sekolah Inah membantu ibunya mencari uang dengan berjualan kue buatan Ibunya. Sementara Ibunya bekerja mencuci baju di rumah majikannya. Sepulang bekerja Inah menyempatkan diri mengajar ibunya membaca dan menulis.
“ Nah, Inah capek ya ngajarin emak baca ? “ Sang Ibu menatap anaknya yang sedang menulis sebuah kalimat untuk dibaca Ibunya.
“ Emak kok ngomong kayak gitu ? Inah nggak pernah capek kok ngajarin emak baca sama nulis. “ Inah tersenyum sambil menyerahkan kertas yang berisi kata yang tadi ditulisnya.
Ibu Inah tersenyum, dan mengecup lembut dahi anak kebanggaannya. Dan kemudian mulai mengeja kata demi kata yang ditulis oleh Inah.

I – N – A – H S – A – Y – A – N – G E – M – A – K

“ I-N-A-H, Inah, S-A-Y-A-N-G, sayang, Inah sayang, E-M-A-K, emak. Inah sayang emak. “ Ibu Inah bertepuk tangan girang karena bisa mengeja kalimat demi kalimat dengan baik.
“ Emak juga sayang sama inah.”
Inah tersenyum melihat ibunya.
“ tuh kan, emak sekarang udah hebat. Emak udah bisa baca. “
“ Nah, besok Inah pengumuman kelulusan SMA ya ? gimana perasaan kamu Nah ? kira – kira lulus apa nggak ? “
“ InsyALLAH lulus mak, mak doain Inah ya, semoga besok Inah lulus. “
Kedua ibu dan anak ini tersenyum saling pandang dengan penuh kehangatan cinta dan kasih. Meski hanya hidup berdua, penuh dengan kekurangan. Tapi selalu ada kebahagiaan dan keceriaan diantara mereka. Malam ini Inah terlelap di pangkuan Ibunya. Doa – doa Emak membaluri mimpi – mimpinya.
Hari ini mendung menyelimuti Kota Jakarta. Inah berlari menyusuri rel kereta api. Dengan wajah sumringah Inah mengibarkan kertas putih bukti kelulusannya. Tapi siapa sangka ditengah sebuah kebahagiaan terdapat duka yang sangat menyakitkan. Inah menemukan ibunya tergeletak di atas tempat tidur mereka, terbujur kaku tak berdaya. Ibu Inah telah tiada. Sosok yang selama ini teramat Ia cintai, yang selalu ada disampingnya, yang tak pernah mengeluh, yang tak pernah menyerah dengan kerasnya kehidupan, yang mengajarinya untuk terus bermimpi, terus bersekolah dan selalu bersikap optimis, yang mengajari segala hal tentang kehidupan, tentang TUHAN dan kekuatan sebuah doa. Kini harus pergi meninggalkannya disaat Ia akan menyampaikan berita kelulusan yang ditunggu – tunggu ibunya. Seketika tangis Inah pecah. Kebahagiaan sirna dihapus duka.
“ EEEEEMMMMMAAAAAKKKKK. . . . .emak jangan tinggalin Inah mak. .Inah nggak mau sendiri MMAAAKK. . .EEMMMAAAKK. .Inah sayang emak. .”
Inah menangis memeluk tubuh yang tak lagi bernyawa.
“ mak liat nih mak, anak emak lulus mak, Inah lulus mak. “
Mendung yang menyelimuti Kota Jakarta seolah mencerminkan suasana hati Inah yang kelabu. Setelah acara pemakaman Ibunya hanya ada kesedihan dan kesunyian yang mencekam menyelimuti Inah. Inah tak henti – hentinya menangis. Seusai shalat Maghrib Inah membaca Surah Yaasin dan Al – Qur’an. Ketika alunan ayat – ayat suci dilantunkan di bibir Inah, suaranya begitu menyayat hati. Ia seolah mengadu, berkeluh kesah pada Tuhannya. Setelah ibunya meninggal, hanya Tuhan lah tempatnya mengadu, menangis, dan bersandar.
Seminngu sudah ibunya meninggal, Inah sibuk bekerja serabutan untuk mencari sesuap nasi. Ia bahkan telah melupakan janjinya untuk terus bersekolah.
Suatu ketika tanpa sengaja Inah membuka kembali buku tulisnya yang digunakan ibunya selama belajar membaca dan menulis bersamanya. Ia sangat terkejut menemukan catatan kecil ibunya.

PESAN EMAK UNTUK INAH

INAH TIDAK BOLEH TIDAK SEKOLAH
INAH HARSU RAJIH SEKOLAH

EMAK SAYAGN INAH
Inah kembali menangis. Ia telah melupakan janjinya untuk rajin sekolah. Setelah menemukan pesan dari ibunya. Inah dengan semangat berusaha belajar demi mengejar beasiswa agar bisa masuk universitas. Selama Inah selalu mendapat beasiswa di sekolahnya. Karena Inah memang termasuk salah satu murid terbaik di sekolahnya. Setelah melalui banyak perjuangan akhirnya Ia diterima di sebuah PTN di Jakarta dengan beasiswa penuh.
Waktu telah jauh berputar. Kini Inah tak lagi tinggal di gubuk bobrok di pinggiran rel kereta api.Ia telah punya rumah tinggal yang layak. Ia telah menyelesaikan study-nya dengan baik. Dan kini ia sukses usaha restoran dengan banyak cabang di seluruh pulau jawa. Semua berkat Emak. Yang selalu mendukung Inah untuk terus menuntut ilmu, mencintai ilmu, terus belajar, dan terus belajar.
Di depan sebuah pusara. Seorang wanita muda duduk membaca doa dengan khusyuk. Memanjatkan doa untuk dia yang tlah tenang di alam sana. Untuk dia yang teramat ia cintai. Untuk emak.

EMAK

Hujan, ku teringat akan peluh
Panas, ku teringat akan senyuman
Peluh air kehidupanku
Senyuman penghangat jiwaku
Tapi,
Jangan samakan hujan dengan peluh
Jangan samakan panas dengan senyuman
Jika,
Hujan tak lagi turun
Panas tak lagi di bumi
Semua akan mati
Namun jika,
Peluh tak lagi ada
Senyuman telah sirna
Aku takkan mati, meski ia tlah kembali kepada ILAHI
Karna peluh dan senyuman itu membekas dalam jiwaku
Peluh masih nyawaku
Senyuman masih menghangatkan jiwaku
Karena peluh dan senyuman adalah milik EMAK
Yang selalu ada menyirami hatiku
Karena di hatiku ada EMAK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar